Kandungan Bonggol Pisang
BONGGOL PISANG
Bonggol pisang mengandung gizi yang cukup tinggi dengan komposisi yang lengkap. Menurut Rukmana (2005) dalam Elizabeth (2013), bonggol pisang mengandung gizi yang cukup tinggi dengan komposisi lengkap, dalam 100 gram bonggol pisang basah terkandung 43,0 kalori, 0,36 g protein, 11,60 g karbohidrat, 86,0 g air, beberapa mineral seperti cA, P dan Fe, Vitamin B1 dan C, serta bebas kandungan lemak. Adapun kandungan gizi dalam bonggol pisang sebagai berikut:
Tabel 2.1 Kandungan gizi bonggol pisang
No Kandungan gizi Bongol basah Bonggol kering
1 Kalori (kal) 43.00 245.00
2 Protein (g) 0.36 3.40
3 Lemak (g) 0.00 0.00
4 Karbohidrat (g) 11.60 66.20
5 Kalsium (mg) 15.00 60.00
6 Fosfor (mg) 60.00 150.00
7 Zat besi (mg) 0.50 2.00
8 Vitamin A (SI) 0.00 0.00
9 Vitamin B1 (mg) 0.01 0.04
10 Vitamin C (mg) 12.00 4.00
11 Air (g) 86.00 20.00
12 Bagian yang dapat dimakan (%) 100.00 100.00
(Sumber: Dierektorat Gizi, Depkes RI (1981) dalam Elisabeth (2013).
Kandungan gizi bonggol pisang berpotensi digunakan sebagai sumber mikroorganisme lokal (MOL) karena kandungan gizi dalam bonggol pisang dapat digunakan sebagai sumber makanan sehingga mikrobia berkembang dengan baik (Ole, 2013). Jenis Mikroorganisme yang telah didentifikasi pada bonggol pisang antara lain Bacillus sp., Aeromonas sp., Aspergillus nigger, Azospirillium, Azotobacter dan mikroba selulolitik. Mikroba inilah yang biasa bertindak sebagai dekomposer bahan organik (Budiyani, dkk. 2016).
Larutan MOL (Mikro Organisme Lokal) adalah hasil fermentasi yang berbahan dasar dari berbagai sumber daya yang tersedia setempat. Larutan MOL mengandung unsur hara mikro dan makro dan juga mengandung bakteri yang berpotensi sebagai perombak bahan organik, perangsang pertumbuhan, dan sebagai agen pengendali penyakit tanaman, sehingga MOL dapat digunakan baik sebagai dekomposer, pupuk hayati dan sebagai pestisida organik terutama sebagai fungisida (Purwasasmita, 2009b)
Menurut Mulyono (2014), mikroorganisme lokal (MOL) merupakan bioaktivator cair berbahan baku organik untuk mempercepat proses pengomposan. Kelebihan lain dari MOL adalah biaya pembuatannya murah atau bahkan tanpa biaya. Bagi lingkungan hidup seperti tanah, adanya mikroorgansime dapat menentukan tingkat kesuburan tanah dan memperbaiki kondisi tanah. Metode pemupukan dalam pertanian organik sebenarnya bertumpu pada peran mikroorganisme. Mikoorganisme ini sebenarnya sangat muda dibudidyakan dan dikienal sebagai mikroorganisme lokal (MOL). Istilah lain dari MOL diantaranya starter, aktivator kompleks, mikroorganisme dekomposisi, bioaktivator dan dekomposer.
Berdasarkan kegunaannya dalam dunia pertanian mikroorganisme yang dapat dimanfaatkan untuk pembuatan pupuk organik dan kompos dapat ditemukan dari dalam tanah, tubuh hewan, limbah/sampah. Proses dekomposisi bahan organik terkait aktivitas bakteri merubah bahan organik menjadi kompos memerlukan bakteri untuk mempercepat prosesnya. Secara alami proses dekomposisi memerlukan waktu hingga 1-2 bulan tetapi dengan bantuan mikroorganismel lokal (MOL) proses dekomposisi hanya memerlukan waktu 7-14 hari. (Mulyono, 2014).
Colek mas Arief Haryo
Komentar
Posting Komentar